Mitos Virus Covid-19 Yang Tak Terbukti

Diposting pada

Seiring menyebarnya virus corona, informasi mengenai virus yang berawal dari Wuhan, China, itu pun semakin bertebaran. Namun, tak semua informasi terbukti kebenarannya. Sejumlah informasi justru hanya hoaks dan mitos virus corona yang tak terbukti secara ilmiah.

Mitos, rumor, hoaks, dan informasi yang salah justru dapat membahayakan. Kenali mitos-mitos tersebut beserta informasi yang tepat.

1. Mitos masker dapat melindungi dari virus
Masker bedah tidak dapat melindungi diri dari virus corona. Masker ini tidak dirancang untuk memblok partikel virus. Orang sehat yang memakai masker justru berisiko meningkatkan infeksi virus karena lebih sering memegang wajah, salah satu metode penularan virus corona.

Yang benar, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan masker bedah untuk orang sakit karena dapat membantu mencegah orang dengan infeksi saluran pernapasan termasuk Covid-19 untuk tidak menyebarkan virus ke orang lain. Virus yang terdapat pada droplet bisa dihambat dengan masker.

2. Mitos pasien COVID-19 sudah pasti meninggal dunia
Informasi yang menyebut bahwa infeksi virus corona pasti menyebabkan kematian adalah salah kaprah. Hingga saat ini (4/3), data mencatat sekitar 83 persen pasien Covid-19 memiliki gejala yang ringan. Hanya 17 persen di antaranya yang berada dalam kondisi kritis. Tingkat kematian akibat virus corona juga disebut hanya sekitar 3,8 persen.

Mayoritas kasus kematian terjadi pada lansia dan orang yang sudah memiliki komplikasi atau penyakit penyerta.

3. Mitos tidak aman menerima paket dari China
WHO menyatakan bahwa paket, surat, atau bahan makanan dari China masih aman untuk diterima. CDC menyebut, risiko penyebaran virus corona melalui produk atau paket sangat rendah.

Virus corona SARS dan MERS memang diklaim bisa hidup selama sembilan hari pada benda mati. Sementara virus corona jenis baru atau SASR CoV-2 disebut punya kemampuan serupa. Kendati begitu peneliti bidang mikroboologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Sugiyono Saputra mengungkapkan belum ada penelitian spesifik yang mengukur kemampuan bertahan virus Covid-19.

Sementara dikutip dari Live Science, studi menunjukkan, virus corona tidak dapat bertahan lama pada surat atau paket. Virus hanya dapat hidup pada kombinasi kondisi lingkungan tertentu seperti suhu, kurangnya paparan sinar matahari, dan kelembapan tertentu.

4. Mitos hewan peliharaan menyebarkan virus corona
Hingga saat ini, belum ada bukti bahwa hewan peliharaan seperti anjing atau kucing dapat terinfeksi virus corona. Memang sempat ada laporan bahwa seekor anjing peliharaan di Hong Kong terdeteksi positif Covid-19, sekalipun dengan tingkat rendah. Anjing milik pasien yang positif virus corona ini tengah dikarantina di Departemen Pertanian, Perikanan dan Konservasi Hong Kong.

Akan tetapi dikutip dari WHO, otoritas setempat menyatakan anjing tersebut tak menunjukkan gejala apapun dan belum ada bukti kuat bahwa piaraan ini tertular virus corona, ataupun bisa menularkan infeksi ke manusia. Karena itu masih akan ada sejumlah tes guna mengonfirmasi apakah sang anjing benar-benar terinfeksi ataukah ada faktor lain.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) pun hingga kini belum menerima laporan penularan virus Covid-19 yang menjangkiti hewan peliharaan. Kendati begitu, WHO tetap menyarankan untuk selalu mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir setelah menyentuh hewan peliharaan. Mencuci tangan melindungi infeksi bakteri seperti E coli dan Salmonella.

5. Mitos mengonsumsi rempah seperti jahe, bawang putih dan sebagainya mencegah infeksi virus corona
Rempah seperti jahe, kunyit, dan bawang putih merupakan makanan yang bernutrisi tinggi dan memiliki sifat antimikroba serta antiinflamasi. Konsumsi makanan ini akan meningkatkan daya tahan tubuh.

Namun, hingga saat ini tidak ada bukti bahwa konsumsi rempah akan melindungi diri dari virus corona.

6. Mitos thermal scanner mendeteksi virus corona
Thermal scanner tidak dapat mendeteksi virus corona. Termal scanner merupakan alat yang efektif untuk mendeteksi orang yang demam, ditandai dengan suhu badan tinggi. Demam merupakan salah satu gejala virus corona, tapi tidak semua demam disebabkan oleh virus corona.

Virus corona hanya dapat diketahui dengan tes di laboratorium oleh petugas kesehatan.

7. Mitos vaksin pneumonia dapat cegah virus corona
Hingga saat ini virus corona tidak memiliki vaksin ataupun antivirus.

Vaksin pneumonia, seperti vaksin pneumokokus dan vaksin Haemophilus influenza tipe B (Hib), tidak bisa memberikan perlindungan terhadap virus corona.

Virus ini merupakan virus baru dan berbeda sehingga membutuhkan vaksin tersendiri. Para peneliti sedang mencoba mengembangkan vaksin melawan virus corona.